BINTANG BERPIJAR DI MATANYA Siapakah orang yang paling penting dalam hidup anda?! Berbicara tentang orang penting dalam hidup kita adalah berbicara tentang cinta yang senantiasa mengalir tanpa batas. Adalah berbicara tentang sepotong bintang yang senantiasa berpijar. Tulus dan tak mengharap setitik balas. Namanya Amin. Sama seperti nama bapakku. Setiap kali berhadapan dengannya, selalu kulihat bintang yang berpijar di matanya. Bintang yang selalu menyala. Bintang yang memberikan kesejukan yang menerpa dari setiap sudut. Ia bekerja di Pemerintahan Daerah (PEMDA) kabupatenku. Setiap kali bertemu orang – orang, ia selalu tersenyum dan tak berhenti menyapa. Maka, merupakan suatu yang membahagiakan bertemu dengannya di tengah pelayanan publik PEMDA yang aku rasakan kurang memasyarakat. Sudah sering kali, tiap mengurus proposal kegiatan ataupun untuk urusan lainnya, aku diping-pong sana sini dengan jalur yang tidak jelas. Dan, dengan senyum, ia selalu menawarkan kesejukan. “Ada apa, Dym? Apa saja kegiatanmu? Buku terbarumu sudah keluar?!” Selalu. Sapanya seakan menghilangkan berbagai kesumpekkan dalam dadaku. “Aku lagi ngurus proposal.” Ujarku. “Kaya biasa, capeeeeeeee deh!!!” “Ya, harap maklum aja, teman. Setiap hari, proposal yang masuk ke sini bisa sampai dua puluhan. Jadi, kamu harus sabar dan rajin mengontrol. Kalau tidak, kadang, proposalmu bisa hilang tak tentu rimba.” Begitulah. Oya, aku hampir lupa. Amin ini adalah suami dari sahabatku waktu SMA, Tuti namanya. Dulu; Aku, Tuti, Hilda, Ida, Robert, Septi dan Fatur adalah sahabat yang seiring sejalan waktu SMA. Mereka sahabat sejati yang terkadang konyol. Pernah, mereka melabrak seorang cewek adik kelas kami, yang mereka pikir pacarku, hanya karena dia sedang berjalan dengan cowok lain. Gila bukan?! Seiring berjalannya waktu, setelah tamat SMA, kami berpencar seperti mata angin. Fatur bekerja di Makasar setelah menuntaskan ilmu apotekernya, Hilda menjadi guru di sebuah SMA (atau SMP?!), Robert memilih menjadi tentara, Septi tak kutahu kemana rimbanya, sedangkan aku dan Tuti memilih untuk tetap di kampung halaman kami. Tuti menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan suaminya, sedangkan aku mengabdikan diri menjadi guru di sebuah sekolah yang lumayan jauh dari rumahku. “Dia adalah suami yang baik...” cerita Tuti padaku. “Setiap hari, ada saja orang yang membawakan bingkisan untuknya di rumah kami, terutama makanan. Sering kami tolak, tapi kami menjadi tak enak sendiri.” Sampai suatu saat, sekitar tiga bulan yang lalu, gempa melanda kampung kami. Gempa yang cukup dahsyat. Banyak korban jiwa dalam gempa itu. Kami bahkan terpaksa mengungsi dan tidur di jalanan. Aku sempat melihat Tuti saat itu. Ia mengendong anaknya yang berumur sekitar lima tahunan, sementara perutnya kulihat mulai membesar. Ia hamil anak kedua. Aku sempat ber-say hello dengannya. Dan, aku dibuat kaget ketika sahabatku, Fauzy menelponku. “Dym, gue dengar kabar Tuti meninggal.” “What?! Nggak mungkin. Beberapa hari yang lalu aku sempat ketemu dengan dia. Pas gempa.” Ujarku tak percaya. “Benaran, Dym. Di samping gue nih ada paman gue yang sempat melayat. Tuti meninggal di rumah sakit, ketika melahirkan anak keduanya.” Malam itu juga, dengan motorku, aku melaju ke rumah Tuti. Perasaanku acak – acakan, ketika kulihat tenda di rumah itu dan begitu banyak orang yang yasinan. Hatiku haru biru. Sahabat baikku itu pergi juga... Masih tergiang pesannya, setiap kali kami bertemu. “Kapan kamu menikah, Dym?” “Apa enaknya menikah?!” Ujarku, tanpa berusaha menceritakan proses ta’arufku yang selalu gagal. Hehehe... “Menikah itu memang enaknya cuma sedikit memang,” ia tersenyum. “Yang lebih banyakkan.... enakkkkkkkkk sekali...” *** Lama aku tak bertemu dengan Amin sesudah itu. Sampai akhirnya, ketika mengurus sandiwara radio yang diproduksi oleh organisasiku dan alhamdulillah akan ditayangkan RRI, aku kembali harus berurusan dengan pemda untuk penanda tanganan kontrak. Kembali, aku bertemu lagi dengan lelaki bertama bintang itu. Dengan senyumnya yang tak pernah mati. Ia membantuku mengurus segala sesuatunya. Sampai – sampai, ucapan terima kasih terasa begitu sulit untuk kuucapkan. Bahkan aku tak berani melihat wajahnya, karena mataku tiba – tiba memanas akan ketulusannya. Lebih – lebih ketika kami duduk dalam ruangan kantornya yang sejuk. Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa. Kata – kata seolah menguap dari kosa kataku. “Ia adalah seorang yang sangat baik dan sulit untuk dilupakan begitu saja.” Ujarnya miris, mengenang Tuti, istrinya. “Pantas Allah begitu sayang padanya dan memanggilnya begitu cepat.” Kami terdiam lama. “Bagaimana kabar anak-anak?” tanyaku, dengan hati yang tak menentu. “Mereka tinggal dengan neneknya. Tapi, tiap pekan, aku selalu berusaha untuk meluangkan waktu bersama mereka. Mereka butuh kasih sayangku.” “Sudahlah.” Lelaki bermata bintang itu tersenyum. “Sudah berapa bukumu yang terbit?! Aku selalu membaca karya – karyamu. Sayang ya jarang beredar di Bima.” Ah, ya! Kukeluarkan sebuah novel baruku yang baru terbit di tas ku. Kutanda tangani dan kutulis Buat Aba Amin; Thanks for all... Ia membuka – buka novel itu. Dan ketika tiba waktunya aku pamit, dengan mata bintang ia berkata; jika kau ke sini, hubungi saja aku. Aku akan selalu membantumu... Dan aku akan selalu mendo’akanmu, agar engkau selalu berjalan di jalan cahaya, ujarku dalam hati. Bukan. Bukan hanya dia yang memijarkan cahaya bintang di matanya, dan berkali – kali membuatku merasa berarti. Masih ada. Dan ijinkan aku bercerita tentangnya. Lelaki itu masih muda. Umurnya berbeda 13 Tahun denganku. Tapi, ia membuatku bercermin padanya berkali – kali. Ya, berkali – kali ia membuatku bertasbih. Kami bertemu karena kebetulan dia adalah muridku dalam kelas khusus olimpiade Komputer. Ia terlihat biasa – biasa saja. Pakaiannya terlihat bersih dan rapi. Awalnya, aku pikir dia anak seorang guru atau mungkin polisi. Setidaknya, itu adalah kelas sosial yang cukup terpandang di daerah tempatku mengajar. Karena sebagian besar orang tua muridku berprofesi sebagai petani atau buruh tani. Dalam berbagai perlombaan yang kami ikuti, ketika kutraktir, dengan halus ia selalu menolak; InsyaAllah uang adek cukup, ujarnya selalu. Ya, ia tak pernah mau menyusahkan orang lain. Sekalipun, masalah traktir itu, tidak akan menyusahkanku. Bahkan aku senang melakukannya. Sampai suatu hari, kami kemalaman di tengah jalan, karena bensin motor kami habis. Salahku juga tidak memeriksanya. “Bagaimana ini, dek...” “Abang nginap di rumah adek aja.” Ujarnya menawarkan. “Tapi...” “Ya udahlah... nginap di rumah adek aja. Nggak apa – apa kok.” Maka, sampailah kami di sebuah rumah yang paling sederhana di kampung itu. Aku sedikit tak percaya itu rumahnya. “Maaf kak ya, rumah adek kaya gini deh. Kecil.” Aku tepuk pundaknya, “Ngak apa – apa dek. Abang suka rumah yang kecil.” Kami saling memandang. Ada senyum menggembang di wajahnya. “Oya, abang nggak mau bapak dan ibumu repot ya. Biasa aja. Anggap saja abang kakakmu. Deal?!” Lagi, ia tersenyum. Aku melihat bintang di matanya. Malam itu, aku bukan hanya memiliki adik baru. Tapi juga ayah dan ibuku bertambah. Aku bercermin banyak darinya. Hampir setiap pekan, kuhabiskan uang sakuku untuk hal – hal yang tak berarti; membeli baju baru, mentraktir teman – temanku, jalan – jalan, membeli pulsa yang cukup boros, padahal dari tiap uang itu ada yang masih berhak memilikinya. Ya Rabb... aku malu...!!! Aku malu pada cermin itu, Rabb... Dan hari ini, ketika kesedihan menyergap hatiku, tiba – tiba ia meng-sms-ku... A, kenapa sih kok a kelihatan sedih hari ini. Aku menetap layar handphoneku dengan hati haru biru yang luar biasa. Jangan sok tahu. A lagi bahagia kok. Tahu dari mana A lagi sedih?! Mau A cekik. Hehehe... Tak berapa lama kemudian... Bukannya gitu, adek sayang banget ama A, karena Allah. Serius!!! Dan tiba – tiba aku menjadi begitu malu sekaligus bahagia. Aku menjadi malu pada adik kecilku, yang sama sekali tidak ada hubungan darah denganku, tapi begitu tulus memberikan makna. Dia adalah adik, saudara, sahabat, sekaligus guruku dalam mengarifi kehidupan; Nadinsyah Putra! Entah kau tau atau tidak, dek... aku juga menyayangimu... karena Allah...*** Dorowila, 9 MeI 2008